← Kembali ke Blog
🇯🇵Jepang

Cara Mengucapkan Maaf dalam Bahasa Jepang: Menguasai Sumimasen, Gomen, dan Lainnya

Oleh Sandor20 Februari 20269 mnt baca

Jawaban cepat

Cara paling umum untuk mengatakan maaf dalam bahasa Jepang adalah "Sumimasen" (すみません, soo-mee-mah-sehn). Ungkapan ini bisa berarti permintaan maaf, ucapan terima kasih, dan "permisi" sekaligus. Untuk minta maaf santai ke teman, gunakan "Gomen" (ごめん) atau "Gomen nasai" (ごめんなさい). Dalam situasi formal atau bisnis, "Moushiwake gozaimasen" (申し訳ございません), harfiah "tidak ada alasan", adalah standar paling tepat.

Jawaban Singkat

Cara paling umum untuk mengatakan maaf dalam bahasa Jepang adalah Sumimasen (すみません, soo-mee-mah-sehn). Ini salah satu kata paling serbaguna dalam bahasa tersebut. Kata ini bisa berarti permintaan maaf, ucapan terima kasih, dan “permisi”. Namun bahasa Jepang punya banyak ungkapan maaf, dari Gomen (ごめん) yang santai antar teman sampai Moushiwake gozaimasen (申し訳ございません) yang sangat formal di ruang rapat dan konferensi pers.

Bahasa Jepang dituturkan oleh sekitar 125 juta orang, menurut data Ethnologue 2024. Budaya meminta maaf di Jepang adalah salah satu aspek masyarakatnya yang paling sering diteliti. Survei Bahasa Nasional 2023 dari Badan Urusan Kebudayaan menemukan bahwa penutur bahasa Jepang memakai ungkapan terkait permintaan maaf lebih sering daripada kategori tutur sopan lainnya, bahkan lebih sering daripada salam atau ungkapan terima kasih.

"Dalam budaya Jepang, permintaan maaf bukan sekadar pengakuan salah, tetapi alat sosial untuk menjaga harmoni, mengekspresikan empati, dan memulihkan keseimbangan rapuh dalam hubungan antarmanusia."

(Anna Wierzbicka, Cross-Cultural Pragmatics, Mouton de Gruyter, 2003)

Panduan ini membahas 15 cara penting untuk mengatakan maaf dalam bahasa Jepang, disusun berdasarkan tingkat formalitas: ungkapan santai untuk teman dan keluarga, permintaan maaf sopan sehari-hari, bahasa bisnis formal (keigo), dan fenomena khas Jepang, yaitu sumimasen sebagai ungkapan terima kasih. Setiap bagian memuat tulisan Jepang, pelafalan romaji, dan konteks budaya, supaya kamu tahu permintaan maaf mana cocok untuk situasi tertentu.


Referensi Cepat: Ungkapan Maaf Bahasa Jepang Sekilas


Permintaan Maaf Santai: Di Antara Teman dan Keluarga

Ungkapan ini khusus untuk orang yang dekat denganmu. Jika kamu memakainya ke orang asing atau atasan, itu bisa terdengar tidak sopan. Menurut riset ahli bahasa Sachiko Ide tentang kesopanan bahasa Jepang, perbedaan santai dan formal dalam permintaan maaf adalah penanda jarak sosial yang paling jelas.

ごめん

Santai

/goh-mehn/

Arti harfiah: Maafkan saya (disingkat)

ごめん、遅れた!電車が止まってた。

Maaf, aku terlambat! Keretanya berhenti.

🌍

Permintaan maaf paling santai. Pakai hanya untuk teman dekat, saudara, atau pasangan. Menghilangkan 'nasai' dari 'Gomen nasai' menandakan kedekatan dan gaya informal.

Gomen adalah inti permintaan maaf bahasa Jepang yang paling ringkas. Ini berasal dari gomen nasai dengan akhiran sopan dihilangkan. Mirip seperti arigatou yang menghilangkan gozaimasu dalam percakapan santai. Ini cocok saat kamu menyenggol teman, terlambat lima menit, atau lupa membalas pesan.

Ungkapan ini tidak membawa nuansa formal. Rasanya hangat, langsung, dan cepat.

ごめんね

Santai

/goh-mehn neh/

Arti harfiah: Maaf ya?

ごめんね、今日行けなくなっちゃった。

Maaf ya, ternyata aku tidak bisa datang hari ini.

🌍

Menambahkan 'ne' melembutkan permintaan maaf dengan nada mencari pengertian. Umum di kalangan perempuan dan hubungan yang akrab. Setara dengan 'maaf ya, oke?' dalam bahasa Indonesia.

Partikel ne (ね) menambah lapisan lembut dan empatik. Ini meminta pengertian lawan bicara, bukan sekadar menyatakan penyesalan. Gomen ne terasa lebih hangat dan penuh kasih daripada gomen saja. Kamu akan sering mendengarnya di antara pasangan, teman perempuan dekat, dan orang tua kepada anak.

Di kalangan penutur muda, bentuk panjang ごめーんね (gomeen ne) memberi kesan manja dan bercanda.

ごめんなさい

Santai

/goh-mehn nah-sah-ee/

Arti harfiah: Tolong maafkan saya

ごめんなさい、あなたの本をなくしてしまいました。

Saya minta maaf, saya kehilangan bukumu.

🌍

Permintaan maaf santai versi lengkap. Lebih sungguh-sungguh daripada 'Gomen' tetapi tetap personal, dipakai untuk orang yang kamu kenal. Anak-anak diajari mengatakan 'Gomen nasai' sejak kecil. Ungkapan ini punya bobot emosi yang nyata.

Gomen nasai adalah permintaan maaf pertama yang dipelajari anak-anak Jepang. Akhiran nasai berasal dari nasaru (bentuk hormat dari “melakukan”). Makna harfiahnya menjadi “tolong lakukan kebaikan untuk memaafkan saya”. Walau asalnya sopan, dalam pemakaian modern gomen nasai berada di rentang santai sampai netral.

Ini pilihan tepat saat kamu benar-benar merasa bersalah, tetapi berbicara dengan orang yang kamu kenal secara pribadi.

💡 Gomen vs. Gomen nasai vs. Sumimasen

Anggap tiga ini seperti tangga: Gomen (hanya teman dekat) → Gomen nasai (personal tapi tulus) → Sumimasen (sopan, bisa untuk siapa saja). Jika ragu, sumimasen selalu pilihan aman.


Permintaan Maaf Sopan Standar: Pemakaian Sehari-hari

Ungkapan ini cocok untuk banyak situasi harian: dengan orang asing, staf toko, kenalan, dan rekan kerja. Ungkapan ini tetap sopan tanpa terdengar terlalu formal.

すみません

Sopan

/soo-mee-mah-sehn/

Arti harfiah: Belum selesai (utang budi saya)

すみません、ちょっと通してください。

Permisi, boleh lewat sebentar?

🌍

Pisau serbaguna untuk ungkapan sopan bahasa Jepang. Bisa berarti 'maaf', 'permisi', dan 'terima kasih'. Dipakai puluhan kali sehari oleh setiap penutur bahasa Jepang. Kata paling berguna untuk pengunjung Jepang.

Sumimasen bisa dibilang kata paling penting untuk diketahui dalam bahasa Jepang. Akar maknanya, sumu (berakhir, terselesaikan) dalam bentuk negatif, berarti “belum terselesaikan”. Ini merujuk pada rasa utang budi yang belum tuntas. Etimologi ini menjelaskan mengapa sumimasen bisa menjadi permintaan maaf sekaligus ungkapan terima kasih.

Menurut survei pendidikan Japan Foundation 2021, sumimasen termasuk lima kata yang paling sering diajarkan dalam program bahasa Jepang di seluruh dunia. Dalam satu hari di Tokyo, kamu bisa mengatakan sumimasen untuk memanggil pelayan, meminta maaf saat menyenggol orang di kereta padat, dan berterima kasih kepada orang yang memungut barangmu.

すいません

Sopan

/soo-ee-mah-sehn/

Arti harfiah: Pemendekan santai dari Sumimasen

あ、すいません、ここ空いてますか?

Oh, permisi, kursi ini kosong?

🌍

Pemendekan lisan yang umum dari 'Sumimasen'. Suku kata 'mi' dilunakkan agar lebih cepat dan mengalir. Wajar dalam ucapan, tetapi dihindari dalam tulisan formal.

Dalam ucapan cepat sehari-hari, sumimasen sering memendek menjadi suimasen. Maknanya sama. Bedanya hanya kenyamanan bunyi. Kamu akan lebih sering mendengar suimasen daripada sumimasen di restoran santai, di kereta, dan di interaksi jalanan.

Ini sepenuhnya normal dalam bahasa Jepang lisan. Namun tulisan formal selalu memakai bentuk lengkap.

失礼します

Sopan

/shee-tsoo-reh shee-mahs/

Arti harfiah: Saya melakukan ketidaksopanan

失礼します。山田部長はいらっしゃいますか?

Permisi. Apakah Kepala Bagian Yamada ada?

🌍

Dipakai saat masuk ruangan, menyela, atau pamit. Di kantor, karyawan mengucapkannya saat masuk ke ruangan atasan. Juga sering diucapkan sebelum menutup telepon.

Shitsurei shimasu secara harfiah berarti “saya akan melakukan ketidaksopanan”. Ini cara sopan untuk permisi saat masuk kantor seseorang, menyela percakapan, atau meninggalkan acara. Bentuk lampau, shitsurei shimashita (失礼しました), dipakai untuk meminta maaf setelah kejadian, artinya “tadi saya tidak sopan”. Kamu akan sering mendengar pasangan ungkapan ini di tempat kerja Jepang dan di film serta drama Jepang.


Permintaan Maaf Formal dan Bisnis: Tingkat Keigo

Ungkapan ini berada di dunia keigo (敬語, bahasa kehormatan). Ragam ini dipakai dalam bisnis, layanan pelanggan, dan ruang publik. Menguasai satu atau dua saja sudah menunjukkan kamu belajar bahasa Jepang dengan serius. Untuk memahami formalitas bahasa Jepang, kunjungi halaman belajar bahasa Jepang kami.

申し訳ありません

Formal

/moh-shee-wah-keh ah-ree-mah-sehn/

Arti harfiah: Tidak ada alasan

納期に遅れてしまい、申し訳ありません。

Saya tidak punya alasan karena melewati tenggat waktu.

🌍

Permintaan maaf bisnis formal standar. Dipakai dalam rapat, email profesional, dan situasi yang berhadapan dengan pelanggan. Lebih kuat daripada 'Sumimasen' dan menandakan penyesalan profesional yang tulus.

Moushiwake (申し訳) secara harfiah berarti “sesuatu untuk dikatakan sebagai pembelaan” atau “alasan”. Menambahkan arimasen (tidak ada) menghasilkan “tidak ada alasan”. Ini pengakuan kuat bahwa pembicara tidak bisa membenarkan kesalahannya. Ini adalah permintaan maaf formal dasar dalam budaya bisnis Jepang, dipakai di rapat, email, dan konteks profesional saat sumimasen terasa terlalu ringan.

申し訳ございません

Sangat formal

/moh-shee-wah-keh goh-zah-ee-mah-sehn/

Arti harfiah: Tidak ada alasan (merendahkan diri)

システム障害でご不便をおかけし、誠に申し訳ございません。

Kami sungguh tidak punya alasan atas ketidaknyamanan akibat gangguan sistem.

🌍

Bentuk yang lebih tinggi dari 'Moushiwake arimasen'. Dipakai dalam konferensi pers, permintaan maaf perusahaan, eskalasi layanan pelanggan, dan komunikasi tertulis formal. Akhiran 'gozaimasen' menambah kerendahan hati maksimal.

Mengganti arimasen dengan gozaimasen yang lebih merendahkan diri menaikkan ungkapan ini ke tingkat formal tertinggi. Ini frasa yang sering muncul di konferensi pers perusahaan Jepang, yaitu shazai kaiken (謝罪会見), saat eksekutif membungkuk dalam di depan kamera. Menurut analisis NHK 2023, moushiwake gozaimasen muncul di lebih dari 85% pernyataan permintaan maaf perusahaan yang disiarkan tahun itu.

深くお詫び申し上げます

Sangat formal

/foo-kah-koo oh-wah-bee moh-shee-ah-geh-mahs/

Arti harfiah: Saya dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf yang mendalam

この度の不祥事について、深くお詫び申し上げます。

Terkait insiden ini, saya menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya.

🌍

Permintaan maaf paling formal dalam bahasa Jepang. Dipakai untuk skandal perusahaan serius, tokoh publik yang menanggapi kontroversi, dan pelanggaran pribadi yang paling berat. Hampir selalu disertai membungkuk dalam 45 derajat.

Ini adalah opsi paling ekstrem dalam permintaan maaf bahasa Jepang. Gabungan fukaku (mendalam) + owabi (permintaan maaf, dengan kehormatan o-) + moushiagemasu (menyampaikan dengan rendah hati) membentuk ungkapan penyesalan paling khidmat. Kamu akan menemukannya di konferensi pers formal, pernyataan resmi perusahaan, dan permintaan maaf tertulis dari tokoh publik. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu hampir tidak pernah membutuhkannya, tetapi mengenalinya membantu kamu memahami berita Jepang dan budaya korporat.

🌍 Permintaan Maaf Konferensi Pers Jepang (謝罪会見)

Budaya permintaan maaf publik di Jepang tidak punya padanan yang jelas di masyarakat Barat. Saat perusahaan membuat kesalahan serius, para eksekutif mengadakan shazai kaiken (謝罪会見, konferensi pers permintaan maaf). Mereka berdiri berbaris dan membungkuk dalam, sering pada sudut 45 derajat saikeirei, sementara orang paling senior menyampaikan permintaan maaf. Kedalaman dan durasi bungkukan dinilai ketat oleh media dan publik sebagai tanda ketulusan.


Banyak Wajah すみません: Permintaan Maaf, Terima Kasih, dan Memanggil Perhatian

Salah satu hal paling menarik dalam bahasa Jepang adalah bagaimana sumimasen bergeser mulus di antara tiga fungsi yang berbeda. Memahami fleksibilitas ini penting agar terdengar natural.

FungsiSituasiPadanan dalam Bahasa Indonesia
Permintaan maafMenyenggol seseorang di kereta"Maaf!"
Ucapan terima kasihSeseorang menahan pintu untukmu"Terima kasih!"
Memanggil perhatianMemanggil pelayan"Permisi!"
Maaf + Terima kasihSeseorang memungut barangmu yang jatuh"Maaf, terima kasih!"

Logika dasarnya konsisten. Dalam keempat kasus, sumimasen mengakui bahwa orang lain terdampak oleh keberadaan atau tindakanmu. Menyenggol orang berdampak secara fisik. Menahan pintu berdampak karena menghabiskan waktu mereka. Memanggil pelayan mengganggu pekerjaan mereka. Ahli bahasa Jepang Sachiko Ide berargumen bahwa fungsi terpadu ini mencerminkan nilai budaya Jepang tentang meiwaku (迷惑), yaitu kesadaran kuat untuk tidak merepotkan orang lain.

🌍 Sumimasen sebagai 'Terima Kasih'

Jika seseorang di Jepang memberi petunjuk arah, membawakan barangmu, atau melakukan bantuan tanpa diminta, kamu sering mendengar orang Jepang mengatakan sumimasen alih-alih arigatou. Ini bukan merendahkan diri. Ini empati. Dengan meminta maaf atas kerepotan, pembicara menghargai usaha orang lain. Pengunjung Jepang yang meniru kebiasaan ini sering dipuji karena bahasa Jepangnya terdengar natural.


Slang dan Permintaan Maaf Sangat Santai

Di antara teman dekat dan situasi informal, penutur bahasa Jepang sering memakai bentuk yang dipendekkan dan bernuansa bercanda. Ini umum di anime, manga, dan percakapan santai, tetapi jangan pernah dipakai dalam konteks formal.

すまん

Bahasa gaul

/soo-mahn/

Arti harfiah: Pemendekan kuno dari 'Sumimasen'

すまん、先に食べちゃった。

Salahku, aku makan duluan tanpa nunggu kamu.

🌍

Pemendekan 'Sumimasen' yang maskulin dan kasar. Umum di anime dan di kalangan pria lebih tua. Nadanya tegas tapi akrab. Varian 'Sumanai' (すまない) sedikit kurang dipendekkan.

Suman (dan bentuk yang sedikit lebih panjang, sumanai) adalah pemendekan informal yang maskulin dari sumimasen. Kamu akan sering mendengarnya dari karakter pria di anime dan film Jepang. Nuansanya tegas dan tanpa basa-basi, mengakui salah tanpa banyak seremoni.

わりぃ

Bahasa gaul

/wah-ree/

Arti harfiah: Buruk (bentuk dialek/slang dari 'warui')

わりぃわりぃ、完全に忘れてた。

Salahku, salahku, aku benar-benar lupa.

🌍

Berasal dari 'warui' (悪い, buruk/salah). Setara dengan 'salahku' dalam bahasa Indonesia. Sangat santai, terutama dipakai pria muda. Sering digandakan untuk penekanan: 'Warii warii.'

Warii adalah perubahan slang dari warui (悪い, artinya “buruk”). Mengatakan warii setara dengan “salahku”, mengakui kesalahan dengan cara paling minimal dan santai. Menggandakannya menjadi warii warii sangat umum. Ini menandakan permintaan maaf ringan di antara teman dekat.


Membungkuk dan Bahasa Tubuh Saat Meminta Maaf

Dalam budaya Jepang, bungkukan fisik (ojigi, お辞儀) tidak terpisahkan dari permintaan maaf lisan. Kedalaman bungkukan menyampaikan ketulusan sekuat kata-kata.

Jenis BungkukJepangSudutDipakai Untuk
Anggukan (eshaku)会釈15°Momen “permisi” kecil
Bungkuk standar (keirei)敬礼30°Permintaan maaf standar, sumimasen
Bungkuk dalam (saikeirei)最敬礼45°Permintaan maaf formal, kesalahan serius
Sujud (dogeza)土下座LantaiPenyesalan ekstrem (jarang dalam keseharian)

Bungkuk 30 derajat keirei menyertai sebagian besar permintaan maaf sehari-hari, seperti mengatakan sumimasen di jalan atau meminta maaf kepada rekan kerja. Bungkuk 45 derajat saikeirei khusus untuk situasi serius: kegagalan bisnis, pelanggaran pribadi besar, atau permintaan maaf publik. Dogeza (berlutut dengan dahi menyentuh lantai) adalah bentuk paling ekstrem dan hampir tidak pernah terlihat di luar drama sejarah, meski kadang muncul dalam situasi permintaan maaf perusahaan nyata.

⚠️ Waktu Itu Penting

Bungkukan sebaiknya menyertai atau sedikit mengikuti permintaan maaf lisan, bukan mendahuluinya. Membungkuk sebelum berbicara bisa terlihat dibuat-buat atau tidak tulus. Pola paling natural adalah mulai mengucapkan permintaan maaf, lalu membungkuk saat mencapai kata kunci (sumimasen, moushiwake gozaimasen), dan tahan sebentar sebelum berdiri lagi.


Cara Menanggapi Permintaan Maaf dalam Bahasa Jepang

Mengetahui cara menerima permintaan maaf dengan sopan itu penting. Respons bahasa Jepang cenderung mengecilkan masalah, untuk meyakinkan pihak yang meminta maaf bahwa tidak terjadi apa-apa.

Mereka BilangKamu Bisa BilangArtiNuansa
すみませんいいえ、大丈夫です (Iie, daijoubu desu)Tidak, tidak apa-apaSopan, menenangkan
ごめんなさい気にしないで (Ki ni shinaide)Jangan dipikirkanSantai, hangat
ごめん全然大丈夫 (Zenzen daijoubu)Sama sekali tidak apa-apaSantai, ramah
申し訳ございませんお気になさらないでください (Oki ni nasaranaide kudasai)Mohon jangan dipikirkanSangat formal
すみませんいえいえ (Ie ie)Tidak kokSantai-sopan
ごめんね大丈夫だよ (Daijoubu da yo)Tidak apa-apaSantai, menenangkan

Polanya mirip dengan cara penutur bahasa Jepang menanggapi ucapan terima kasih, yaitu menolak pujian dan mengecilkan. Seperti “ah tidak, sama-sama” yang umum untuk terima kasih, “tidak apa-apa, jangan khawatir” adalah respons standar untuk permintaan maaf. Mengatakan “Saya memaafkanmu” (yurushimasu, 許します) terdengar terlalu dramatis dalam percakapan sehari-hari, jadi simpan untuk situasi serius.


Latihan dengan Konten Jepang Asli

Membaca tentang ungkapan permintaan maaf memberi dasar. Namun mendengarnya diucapkan secara natural, dengan intonasi yang tepat, isyarat bungkuk, dan konteks sosial, akan mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan. Drama dan film Jepang cocok untuk ini karena karakter sering memakai spektrum sumimasen vs. gomen vs. moushiwake gozaimasen, sehingga kamu bisa merasakan kapan tiap ungkapan pas.

Wordy memungkinkan kamu menonton film dan acara Jepang dengan subtitle interaktif. Ketuk ungkapan permintaan maaf apa pun untuk melihat artinya, pelafalan romaji, tingkat formalitas, dan konteks budaya secara real time. Alih-alih menghafal daftar frasa, kamu menyerapnya dari percakapan asli, saat bahasa tubuh, nada, dan dinamika sosial membuat maknanya jelas.

Untuk konten bahasa Jepang lainnya, jelajahi blog kami untuk panduan bahasa, termasuk film terbaik untuk belajar bahasa Jepang. Kamu juga bisa mengunjungi halaman belajar bahasa Jepang untuk mulai berlatih dengan konten asli hari ini.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya "sumimasen" dan "gomen nasai"?
"Sumimasen" (すみません) lebih sopan dan cocok untuk orang asing, rekan kerja, dan di tempat umum. Kata ini juga bisa berarti "terima kasih" dan "permisi". "Gomen nasai" (ごめんなさい) lebih personal dan emosional, artinya langsung "maaf" dan biasanya dipakai untuk orang yang kamu kenal. Dipakai ke atasan bisa terdengar terlalu santai.
Bagaimana cara minta maaf dalam situasi bisnis di Jepang?
Dalam bahasa Jepang bisnis (keigo), permintaan maaf standar adalah "Moushiwake gozaimasen" (申し訳ございません), artinya "tidak ada alasan". Untuk kesalahan serius, "Fukaku owabi moushiagemasu" (深くお詫び申し上げます) berarti "saya menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya". Biasanya disertai membungkuk 45 derajat (最敬礼, saikeirei) agar terlihat sangat tulus.
Kenapa orang Jepang bilang "sumimasen" вместо "arigatou"?
"Sumimasen" secara harfiah bermakna "tidak berakhir", merujuk pada rasa berutang budi. Saat seseorang menolong, budaya Jepang sering menekankan beban yang kamu berikan pada orang itu, bukan manfaat yang kamu terima. Mengucapkan "sumimasen" mengakui kerepotan tersebut, sehingga terasa lebih empatik daripada sekadar "terima kasih".
Apakah harus membungkuk saat minta maaf dalam bahasa Jepang?
Tidak selalu wajib dalam situasi santai, tetapi membungkuk sangat memperkuat kesan tulus saat meminta maaf. Bungkuk standar untuk permintaan maaf (敬礼, keirei) sekitar 30 derajat. Untuk permintaan maaf serius, digunakan bungkuk dalam 45 derajat (最敬礼, saikeirei). Dalam kasus ekstrem ada "dogeza" (土下座), berlutut dengan dahi menyentuh lantai, namun jarang terjadi.
Apa arti "gomen ne" dan kapan sebaiknya dipakai?
"Gomen ne" (ごめんね) adalah versi "gomen" (ごめん) yang lebih lembut dan akrab. Partikel "ne" memberi nuansa halus, seperti meminta pengertian, mirip menambahkan "ya?". Dipakai antar teman dekat, pasangan, atau keluarga untuk kesalahan kecil, misalnya telat beberapa menit atau lupa hal sepele.

Sumber & Referensi

  1. Agency for Cultural Affairs, Japan (文化庁), Survei Bahasa Nasional tentang Kesopanan dalam Bahasa Jepang (2023)
  2. The Japan Foundation (国際交流基金), Laporan Survei tentang Pendidikan Bahasa Jepang di Luar Negeri (2021)
  3. Wierzbicka, A. (2003). "Cross-Cultural Pragmatics: The Semantics of Human Interaction." Mouton de Gruyter.
  4. Ethnologue: Languages of the World, entri bahasa Jepang (2024)
  5. Ide, S. (1989). "Formal forms and discernment: Two neglected aspects of universals of linguistic politeness." Multilingua, 8(2-3).

Mulai belajar dengan Wordy

Tonton klip film asli dan tambah kosakata sambil jalan. Gratis untuk diunduh.

Unduh di App StoreDapatkan di Google PlayTersedia di Chrome Web Store

Panduan bahasa lainnya

Cara Mengucapkan Maaf dalam Bahasa Jepang (2026)