Jawaban cepat
Kata makian Jepang bekerja berbeda dari umpatan bahasa Inggris. Alih-alih mengandalkan istilah seksual atau kotoran yang eksplisit, 'umpatan' Jepang terutama soal menurunkan tingkat kesopanan, memakai pronomina kasar, dan menggunakan bentuk perintah yang keras. Ungkapan ringan seperti ばか (baka, bodoh) dan くそ (kuso, sial) umum di percakapan sehari-hari dan anime, sementara ungkapan kuat seperti 死ね (shine, mati) dan くたばれ (kutabare, mampus) bisa memicu konfrontasi serius. Panduan ini membahas 15 istilah penting yang diurutkan berdasarkan tingkat kekasarannya.
Mengapa Kamu Perlu Tahu Kata Makian dalam Bahasa Jepang
Makian dalam bahasa Jepang bekerja dengan sistem yang benar-benar berbeda dari bahasa Indonesia. Dengan lebih dari 125 juta penutur asli dan sekitar 3,6 juta orang yang mempelajari bahasa ini di seluruh dunia menurut Japan Foundation, bahasa Jepang adalah salah satu bahasa yang paling banyak dipelajari di planet ini. Namun buku pelajaran dan pengajaran di kelas hampir selalu melewatkan ragam bahasa yang kasar, tidak sopan, dan vulgar. Panduan ini mengisi kekosongan itu. Tujuannya bukan mendorong kamu untuk memaki, tetapi membantu kamu memahami apa yang akan kamu dengar di film Jepang, anime, manga, dan percakapan sehari-hari.
Perbedaan utama antara makian bahasa Jepang dan bahasa Indonesia bersifat struktural. Makian dalam bahasa Indonesia sering bertumpu pada kosakata tabu yang terkait seks, fungsi tubuh, atau agama. "Makian" dalam bahasa Jepang justru banyak bekerja lewat pelanggaran kesopanan. Bahasa Jepang punya tingkat formalitas yang rumit: kasual, sopan (です/ます / desu/masu), dan kehormatan (敬語 / keigo). Turun dari ragam sopan ke ragam kasual yang agresif, memakai pronomina yang kasar, atau memakai bentuk perintah kata kerja yang keras ITU sendiri sudah menjadi hinaan, terlepas dari kata spesifik yang dipakai.
"Dalam bahasa Jepang, cara berbicara (ragam, nada, dan formalitas tata bahasa) membawa bobot ofensif yang lebih besar daripada satu kosakata tertentu. Kata kerja yang sepenuhnya biasa, jika dipakai dengan konjugasi yang salah, bisa menjadi hinaan yang sangat berat."
(Senko K. Maynard, Japanese Communication: Language and Thought in Context, 2005)
Riset oleh ahli linguistik Sachiko Ide (2005) menunjukkan bahwa kehormatan bahasa Jepang berfungsi sebagai sistem pengindeksan sosial: melanggar tingkat kesopanan yang diharapkan memberi sinyal penghinaan lebih kuat daripada kata eksplisit apa pun. Ini berarti memahami makian bahasa Jepang menuntut pemahaman mesin sosial di balik kata-kata, bukan sekadar menghafal terjemahan.
Jika kamu baru memulai perjalanan belajar bahasa Jepang, lihat halaman belajar bahasa Jepang kami untuk alat yang membantu kamu belajar kosakata dalam konteks.
⚠️ Catatan tentang Penggunaan yang Bertanggung Jawab
Panduan ini untuk tujuan edukasi dan pemahaman. Budaya Jepang sangat menekankan harmoni sosial (和 / wa) dan kesopanan di ruang publik. Memakai kata-kata ini sebagai penutur non-asli, apalagi dengan aksen nada yang keliru atau konteks yang tidak tepat, bisa menyinggung berat atau membuat kamu terlihat tidak menghormati orang lain. Pahami semuanya, gunakan hampir tidak ada.
Memahami Skala Tingkat Keparahan
Severity Scale
Everyday expressions. May raise eyebrows in formal settings but generally acceptable among friends.
Clearly vulgar. Common in casual speech but inappropriate in professional or formal contexts.
Highly offensive. Can provoke strong reactions. Use with extreme caution or avoid entirely.
Tingkat keparahan makian bahasa Jepang lebih sedikit soal "seberapa kuat" sebuah kata, dan lebih banyak soal konteks: kamu bicara dengan siapa, status sosial relatif kalian, dan apakah situasinya publik atau privat. Mengucapkan くそ (kuso) saat main gim di rumah itu sepele. Mengucapkannya di rapat bisnis bisa mengakhiri karier. Kata yang sama, dua tingkat keparahan yang sepenuhnya berbeda.
Ekspresi Ringan
Ini adalah kata-kata yang paling sering kamu temui di anime, percakapan kasual, dan film Jepang. Pemakaian luas di media membuat dampaknya terasa lebih ringan, meski tetap tidak sopan dalam situasi formal.
1. くそ (Kuso)
/KOO-soh/
Sial / Tai: seruan frustrasi paling umum dalam bahasa Jepang.
Fungsinya sama seperti 'sial!' atau 'tai!' dalam bahasa Indonesia sebagai seruan berdiri sendiri. Juga dipakai sebagai awalan penguat: くそ暑い (kuso atsui, panas banget), くそ野郎 (kuso yarō, bajingan sialan). Sangat umum di anime dan manga.
“くそ!また負けた!”
Sial! Aku kalah lagi!
Umum di seluruh Jepang. Ini kata makian bahasa Jepang yang paling dikenal secara internasional berkat anime.
2. ばか (Baka)
/BAH-kah/
Bodoh / Tolol: hinaan paling ikonik dalam bahasa Jepang.
Hinaan bahasa Jepang yang paling terkenal, dikenal luas lewat anime. Bisa terdengar sayang ('baka!' dari karakter tsundere) atau benar-benar menyakitkan, tergantung nada. Ditulis 馬鹿 dalam kanji, secara harfiah 'kuda-rusa', etimologinya diperdebatkan para ahli selama berabad-abad.
“ばか!そんなこと言わないで!”
Bodoh! Jangan bilang begitu!
Umum di seluruh Jepang. Di wilayah Kansai (Osaka, Kyoto), あほ (aho) lebih sering dipakai daripada ばか dengan makna yang sama.
3. あほ (Aho)
/AH-hoh/
Bodoh / Tolol: padanan ばか (baka) di wilayah Kansai.
Di wilayah Kansai, あほ adalah hinaan ringan default, dipakai santai dan sering juga dengan nuansa akrab. Namun di Tokyo dan Jepang bagian timur, あほ terasa lebih tajam daripada ばか. Asimetri regional ini terkenal sebagai sumber komedi budaya di Jepang.
“あほちゃう?何してんの?”
Kamu bodoh ya? Lagi ngapain?
Wilayah Kansai (Osaka, Kyoto, Kobe). Dianggap lebih keras di Jepang timur (Tokyo, Yokohama). Perbedaan regional ばか/あほ ini sering dibahas dalam budaya populer Jepang.
4. やばい (Yabai)
/YAH-bah-ee/
Aduh sial / Keren banget / Gila: slang yang sangat serbaguna, maknanya sepenuhnya tergantung konteks.
Awalnya slang dunia kriminal yang berarti 'berbahaya' atau 'berisiko'. Di kalangan penutur Jepang yang lebih muda, maknanya bergeser drastis menjadi hampir apa pun yang intens, baik positif ('Makanan ini yabai!' = enak banget) maupun negatif ('Ujiannya yabai!' = parah). Ini slang paling fleksibel di Jepang.
“やばい、電車に遅れる!”
Aduh sial, aku bakal ketinggalan kereta!
Umum di kalangan penutur muda (di bawah 40). Orang Jepang yang lebih tua mungkin masih menafsirkannya terutama sebagai 'berbahaya'. Survei NHK 2019 menemukan やばい adalah slang yang paling sering dikritik oleh generasi lebih tua.
5. しまった (Shimatta)
/shee-MAHT-tah/
Aduh / Sial: seruan penyesalan saat sesuatu berjalan salah.
Secara teknis bentuk lampau dari しまう (shimau, menyelesaikan), dipakai untuk menyatakan sesuatu yang tidak diinginkan sudah terjadi. Ini salah satu 'kata makian' paling aman untuk pelajar, karena menyampaikan frustrasi tanpa unsur vulgar. Umum di anime sebagai reaksi atas kesalahan.
“しまった!財布を忘れた!”
Sial! Aku lupa dompet!
Umum di seluruh Jepang. Masih bisa diterima bahkan dalam konteks semi-formal.
Ekspresi Sedang
Ekspresi ini melampaui sekadar tidak sopan dan menjadi benar-benar kasar. Biasanya melibatkan pola bicara agresif, bentuk sapaan yang merendahkan, atau perintah langsung yang melanggar ekspektasi sosial Jepang. Kamu akan mendengarnya di adegan dramatis anime dan film Jepang, tetapi memakainya di dunia nyata menandakan permusuhan.
6. うざい (Uzai)
/OO-zah-ee/
Menyebalkan / Ganggu banget / Pergi sana: ungkapan blak-blakan untuk kesal pada seseorang.
Bentuk pendek dari うざったい (uzattai). Mengatakan ini tentang seseorang langsung di depan mereka adalah hinaan yang jelas. Umum di kalangan anak sekolah dan dewasa muda. Sering terdengar di anime saat karakter kesal dengan perilaku yang terus-menerus.
“うざい!もう話しかけないで!”
Menyebalkan banget! Jangan ajak aku ngomong lagi!
Umum di kalangan penutur muda. Awalnya slang wilayah Tokyo yang menyebar nasional lewat media.
7. きもい (Kimoi)
/KEE-moh-ee/
Jijik / Menjijikkan / Ngeri: ungkapan keras untuk rasa muak pada seseorang atau sesuatu.
Bentuk pendek dari 気持ち悪い (kimochi warui, merasa tidak enak/jijik). Menyebut seseorang きもい adalah serangan personal langsung pada karakter atau penampilan mereka. Terasa sangat menusuk saat dipakai oleh perempuan muda kepada laki-laki, karena menyiratkan target itu menjijikkan atau menyeramkan.
“きもい!近寄らないで!”
Jijik! Jangan dekat-dekat!
Umum di kalangan penutur muda. Dianggap jauh lebih keras daripada padanan bahasa Indonesianya karena sifatnya yang personal.
8. 畜生 (Chikushō)
/chee-koo-SHOH/
Sial / Binatang: seruan frustrasi yang berasal dari istilah Buddhis.
Secara harfiah berarti 'binatang' dalam terminologi Buddhis, merujuk pada alam kelahiran kembali yang lebih rendah. Sebagai seruan, fungsinya seperti 'sial!' dan umum di anime serta drama periode. Lebih jarang dipakai penutur muda dalam keseharian, yang lebih memilih くそ (kuso).
“畜生!こんなはずじゃなかった!”
Sial! Seharusnya tidak begini!
Umum di seluruh Jepang, tetapi agak kuno untuk percakapan kasual. Sangat umum di shonen manga dan anime aksi.
9. ふざけるな (Fuzakeru na)
/foo-zah-KEH-roo nah/
Jangan macam-macam / Berhenti ngaco: perintah keras untuk menghentikan perilaku konyol.
Bentuk perintah negatif ragam biasa dari ふざける (fuzakeru, bercanda/bertingkah). Akhiran な (na) adalah bentuk perintah maskulin yang kasar. Frasa ini mengekspresikan marah sungguhan, bukan teguran main-main. Padanan sopannya adalah ふざけないでください (fuzakenaide kudasai), tetapi hampir tidak ada yang memakai bentuk sopan saat benar-benar marah.
“ふざけるな!これは冗談じゃないんだ!”
Jangan macam-macam! Ini bukan lelucon!
Umum di seluruh Jepang. Bentuk perintah kasar (~るな) secara tradisional diasosiasikan dengan gaya bicara maskulin.
10. 黙れ (Damare)
/dah-MAH-reh/
Diam: perintah blak-blakan dan agresif untuk berhenti bicara.
Bentuk imperatif dari 黙る (damaru, diam). Jauh lebih agresif daripada うるさい (urusai, berisik). Memakai 黙れ menyampaikan marah dan dominasi. Di tempat kerja atau sekolah, ini bisa dianggap agresi verbal.
“黙れ!お前に関係ないだろう!”
Diam! Itu bukan urusanmu!
Umum di seluruh Jepang. Diasosiasikan dengan gaya bicara maskulin dan otoritatif. Penutur perempuan secara tradisional memakai 黙って (damatte, diam) sebagai bentuk yang sedikit lebih lembut.
11. このやろう (Kono Yarō)
/KOH-noh yah-ROH/
Bajingan / Brengsek: sapaan konfrontatif yang mengekspresikan penghinaan.
Secara harfiah 'orang ini' dengan nada merendahkan. やろう (yarō) adalah kata kasar untuk 'cowok/orang' yang menjadi hinaan saat digabung dengan この (kono, ini). Umum di adegan berkelahi dalam anime dan film aksi. Di dunia nyata, memakainya ke seseorang menandakan kamu siap berkonfrontasi.
“このやろう!よくもそんなことができたな!”
Bajingan! Kok bisa kamu melakukan hal seperti itu!
Umum di seluruh Jepang. Sangat terkait dengan gaya bicara maskulin dan konfrontasi fisik.
Ekspresi Kuat
Ekspresi ini mewakili ragam bicara bahasa Jepang yang paling keras. Ini bisa memicu konfrontasi fisik, menghancurkan hubungan, dan menimbulkan sakit hati yang lama. Dalam masyarakat yang memprioritaskan 和 (wa, harmoni) dan komunikasi tidak langsung, kata-kata ini menandai keruntuhan norma sosial yang ekstrem.
⚠️ Perlu Kewaspadaan Serius
Ekspresi di bawah ini benar-benar berbahaya dalam konteks sosial Jepang. Penekanan Jepang pada harmoni publik membuat bahasa yang terang-terangan bermusuhan jauh lebih mengejutkan dan berdampak daripada makian setara dalam bahasa Indonesia. Ini disertakan murni untuk tujuan pemahaman.
12. てめえ (Temee)
/teh-MEH-eh/
Kamu (sangat kasar): pronomina orang kedua yang merendahkan, dan sudah menjadi hinaan dengan sendirinya.
Berasal dari 手前 (temae, di depan tangan), ini adalah salah satu cara paling agresif untuk mengatakan 'kamu' dalam bahasa Jepang. Menyapa seseorang dengan てめえ alih-alih あなた (anata) atau nama ditambah さん (san) sudah merupakan provokasi serius. Di sinilah makian bahasa Jepang paling berbeda dari bahasa Indonesia, kekasarannya ada pada pronominanya, bukan pada kata tabu.
“てめえ、何様のつもりだ?”
Kamu kira kamu siapa?
Umum di seluruh Jepang. Sangat terkait dengan gaya bicara maskulin yang agresif. Sangat umum di shonen anime (Naruto, Dragon Ball, Bleach) tetapi jarang dalam percakapan dunia nyata.
13. 死ね (Shine)
/SHEE-neh/
Mati: bentuk perintah dari 死ぬ (shinu, mati). Ini termasuk hal paling ofensif yang bisa kamu ucapkan dalam bahasa Jepang.
Menyuruh seseorang mati adalah salah satu serangan verbal paling ekstrem dalam bahasa Jepang. Berbeda dari bahasa Indonesia, di mana 'mati aja' kadang dipakai hiperbolis di internet, 死ね dalam bahasa Jepang membawa bobot besar karena sikap budaya terhadap kematian dan kontrak sosial harmoni publik. Kata ini sering muncul dalam kampanye anti-perundungan siber di Jepang.
“(No casual usage example: this expression is exclusively a serious attack.)”
Ekspresi ini hanya dipakai sebagai provokasi langsung yang ekstrem.
Umum di seluruh Jepang. Muncul dalam diskusi publik tentang perundungan siber (ネットいじめ / netto ijime) dan pelecehan di tempat kerja (パワハラ / pawahara).
14. くたばれ (Kutabare)
/koo-tah-BAH-reh/
Mampus / Pergi ke neraka: bentuk perintah dari くたばる (kutabaru, mati), sinonim vulgar untuk 死ぬ.
Jika 死ね (shine) adalah perintah blunt untuk mati, くたばれ menambah lapisan penghinaan karena くたばる sendiri adalah kata vulgar dan merendahkan untuk kematian, lebih dekat ke 'mampus' daripada sekadar 'mati'. Memakainya ke seseorang mengekspresikan kebencian dan ketidakmenghargaan terhadap keberadaan mereka.
“くたばれ!二度と顔を見せるな!”
Mampus! Jangan pernah muncul lagi!
Umum di seluruh Jepang. Sering di film yakuza dan manga yang keras. Sangat jarang dalam percakapan sehari-hari.
15. きさま (Kisama)
/kee-SAH-mah/
Kamu (sangat menghina): dulunya bentuk kehormatan yang mengalami pembalikan makna total.
Awalnya istilah hormat (貴様, 'orang terhormat'). Selama berabad-abad, maknanya berbalik total menjadi salah satu cara paling bermusuhan untuk menyapa seseorang. Pembalikan makna ini adalah contoh terkenal dalam linguistik bahasa Jepang. Saat ini, menyapa seseorang dengan きさま menandakan penghinaan ekstrem dan kesiapan untuk berkonfrontasi.
“きさま、許さないぞ!”
Kamu, aku tidak akan memaafkanmu!
Umum di seluruh Jepang. Hampir hanya ditemui dalam fiksi (anime, manga, drama periode) dan konfrontasi dunia nyata yang sangat panas. Ahli linguistik Sachiko Ide menyebutnya sebagai contoh utama bagaimana istilah sapaan bahasa Jepang mengodekan relasi sosial.
Bahasa Anime vs Dunia Nyata
Apa yang kamu dengar di anime tidak mencerminkan cara orang Jepang benar-benar berbicara. Ini mungkin catatan budaya paling penting untuk pelajar.
| Fitur | Anime/Manga | Dunia Nyata |
|---|---|---|
| frekuensi くそ (kuso) | Hampir tiap dua kalimat di tayangan aksi | Sesekali, kebanyakan di situasi privat |
| てめえ/きさま (temee/kisama) | Pronomina standar untuk penjahat dan rival | Hampir tidak pernah dipakai, akan mengejutkan |
| Teriak hinaan di tempat umum | Dramatis dan sering | Sangat jarang, tabu sosial |
| Perempuan memakai gaya bicara kasar | Umum untuk karakter "perempuan kuat" | Jauh lebih jarang, meski meningkat |
| ばか (baka) sebagai afeksi | Trope tsundere, terus-menerus | Kadang antar teman dekat |
Shonen anime (少年アニメ) yang menargetkan penonton laki-laki muda melebih-lebihkan bahasa kasar untuk ketegangan dramatis. Karakter di Naruto, Dragon Ball, dan One Piece memakai てめえ, くそ, dan このやろう sebagai kosakata standar. Dalam kenyataan, orang dewasa Jepang yang memakai bahasa seperti ini di tempat umum akan mengundang tatapan dan konsekuensi sosial.
🌍 Pola Bicara Laki-laki vs Perempuan
Bahasa Jepang secara historis mempertahankan pola bicara yang dibedakan berdasarkan gender (女言葉 / onna kotoba untuk perempuan, 男言葉 / otoko kotoba untuk laki-laki). Ekspresi kasar seperti てめえ, このやろう, dan akhiran imperatif ~ろ/~な secara tradisional diklasifikasikan sebagai gaya bicara maskulin. Perempuan secara historis memakai partikel akhir kalimat yang lebih lembut seperti わ (wa) dan の (no). Namun riset sosiolinguistik menunjukkan batas ini makin kabur di kalangan penutur Jepang muda di kota, terutama dalam situasi privat. Meski begitu, perempuan yang memakai きさま atau くたばれ di tempat umum akan melanggar ekspektasi lebih tajam daripada laki-laki yang melakukan hal yang sama.
Eufemisme Bahasa Jepang dan Alternatif yang Lebih Halus
Bahasa Jepang menawarkan banyak cara untuk mengekspresikan frustrasi tanpa masuk ke kekasaran yang nyata:
| Ekspresi Kasar | Alternatif Lebih Halus | Arti |
|---|---|---|
| くそ (kuso), sial | もう (mou) | "Aduh" / "Ya ampun" |
| ばか (baka), bodoh | おばか (obaka) | Versi lebih halus dari "bodoh" (menambah お) |
| うるさい (urusai), diam | 静かにして (shizuka ni shite) | "Tolong diam" |
| 死ね (shine), mati | 消えろ (kiero) | "Menghilang" (tetap kasar) |
| てめえ (temee), kamu (kasar) | あなた (anata) | "kamu" standar (lebih sopan) |
| ふざけるな (fuzakeru na), jangan macam-macam | やめてください (yamete kudasai) | "Tolong berhenti" |
| くたばれ (kutabare), mampus | いい加減にしろ (iikagen ni shiro) | "Cukup, ya" (tegas tapi tidak seekstrem) |
💡 Strategi Kesopanan
Pendekatan paling aman untuk pelajar bahasa Jepang: kuasai cara mengekspresikan frustrasi lewat nada dan tingkat kesopanan, bukan lewat kosakata. Mengucapkan ちょっと... (chotto..., "eh, sebentar...") dengan nada yang tepat bisa menyampaikan ketidaksenangan lebih kuat daripada kata makian apa pun, sambil tetap aman secara sosial. Komunikasi Jepang sangat bergantung pada apa yang TIDAK diucapkan secara langsung.
Belajar Lewat Film dan Anime
Menonton media Jepang adalah salah satu cara paling efektif untuk membiasakan diri dengan bunyi bahasa kasar dalam konteks. Perhatikan bukan hanya kata-katanya, tetapi juga konsekuensi sosial yang dihadapi karakter (atau tidak dihadapi) saat memakainya.
Untuk gaya bicara realistis: Film dari sutradara seperti Hirokazu Kore-eda (Shoplifters, Nobody Knows) menampilkan dialog yang natural dan tertahan, yang mencerminkan cara orang Jepang biasa berbicara. Untuk gaya bicara maskulin yang kasar: Film yakuza karya Takeshi Kitano penuh dengan てめえ, このやろう, dan くたばれ. Untuk pola bicara anime: Naruto dan Dragon Ball Z akan memperlihatkan hampir semua ekspresi ringan dan sedang dalam daftar ini dalam beberapa episode pertama.
Lihat panduan kami tentang film terbaik untuk belajar bahasa Jepang untuk rekomendasi lain. Kamu juga bisa menjelajahi sumber belajar bahasa Jepang Wordy untuk membangun kosakata sambil menonton konten nyata.
Penutup
Makian bahasa Jepang bekerja dengan prinsip yang sangat berbeda dari bahasa Indonesia. Ini poin-poin utamanya:
Kekasaran ITU makiannya. Bahasa Jepang tidak perlu kosakata tabu untuk melukai. Menurunkan tingkat kesopanan, memakai pronomina agresif, dan melanggar ekspektasi sosial tentang komunikasi tidak langsung adalah inti dari "makian" bahasa Jepang.
Anime bukan buku frasa. Pola bicara kasar yang memenuhi shonen anime adalah perangkat dramatis, bukan panduan percakapan. Memakai bahasa anime dalam interaksi bahasa Jepang di dunia nyata akan membuat kamu terlihat tidak peka sosial, atau bahkan menyinggung.
Gender dan konteks membentuk segalanya. Ekspresi yang sama punya bobot berbeda tergantung gender penutur, usia, status sosial, dan situasi. Yang terdengar wajar dari teman laki-laki di izakaya bisa terdengar mengejutkan dari orang asing di jalan.
Diam itu kuat di Jepang. Dalam budaya yang dibangun di atas 和 (wa, harmoni) dan 空気を読む (kūki wo yomu, membaca suasana), bentuk agresi sosial yang paling efektif sering berupa diam yang disengaja, menarik diri, atau kesopanan yang dingin. Orang yang paling keras di ruangan jarang yang paling berkuasa.
Siap belajar bahasa Jepang melampaui buku pelajaran? Mulai dengan alat belajar bahasa Jepang Wordy dan jelajahi koleksi lengkap panduan belajar bahasa kami.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa kata makian Jepang yang paling sering dipakai?
Apakah umpatan Jepang berbeda dari makian bahasa Inggris?
Orang Jepang beneran ngomong kasar seperti di anime?
Ada beda makian pria dan wanita dalam bahasa Jepang?
Kata Jepang apa yang sebaiknya jangan pernah saya ucapkan?
Kenapa karakter anime sering bilang 'kuso' dan 'baka'?
Sumber & Referensi
- Japan Foundation (2024). 'Laporan Survei tentang Pendidikan Bahasa Jepang di Luar Negeri.' The Japan Foundation.
- Maynard, S. K. (2005). 'Komunikasi Jepang: Bahasa dan Pikiran dalam Konteks.' University of Hawaii Press.
- Ide, S. (2005). 'Bagaimana dan Mengapa Honorifik Bisa Menandakan Martabat dan Penghinaan.' Journal of Pragmatics, 37(10), 1631-1646.
- Jay, T. (2009). 'Kegunaan dan Keumuman Kata Tabu.' Perspectives on Psychological Science, 4(2), 153-161.
Mulai belajar dengan Wordy
Tonton klip film asli dan tambah kosakata sambil jalan. Gratis untuk diunduh.

