Cara Mengucapkan Selamat Tinggal dalam Bahasa Jepang: 16 Ungkapan untuk Setiap Situasi
Jawaban cepat
Ucapan selamat tinggal sehari-hari yang paling umum dalam bahasa Jepang BUKAN 'Sayounara' (さようなら). Orang Jepang justru memakai 'Jaa ne' (じゃあね, jah neh) dengan teman, 'Otsukaresama deshita' (お疲れ様でした) di kantor, dan 'Shitsurei shimasu' (失礼します) dalam situasi formal. Sayounara punya nuansa final, seolah kamu mungkin tidak akan bertemu orang itu lagi untuk waktu lama, atau bahkan selamanya.
Ucapan Selamat Tinggal yang Kamu Pelajari Itu Keliru
Ucapan selamat tinggal sehari-hari yang paling umum dalam bahasa Jepang BUKAN Sayounara (さようなら). Jika kamu belajar bahasa Jepang dari buku pelajaran, sayounara mungkin jadi salam perpisahan pertama yang kamu hafal. Namun, coba berjalan di kantor, sekolah, atau lingkungan di Tokyo, kamu jarang mendengarnya. Orang Jepang justru memakai Jaa ne (じゃあね) dengan teman, Otsukaresama deshita (お疲れ様でした) di tempat kerja, dan Shitsurei shimasu (失礼します) dalam situasi formal.
Kenapa? Sayounara terasa sangat final. Kata ini berasal dari sayou naraba ("kalau memang harus begitu"), yang menyiratkan penerimaan perpisahan yang bisa permanen. Mengatakannya ke rekan kerja di akhir hari Selasa terdengar seperti kamu resign, atau lebih buruk. Menurut Survei Bahasa Nasional 2023 dari Badan Urusan Kebudayaan, mayoritas besar orang dewasa Jepang memakai salam perpisahan yang sesuai konteks, bukan satu salam untuk semua situasi.
"Salam perpisahan Jepang bukan variasi dari satu konsep, melainkan tindakan sosial yang berbeda. Masing-masing menyampaikan informasi spesifik tentang hubungan, situasi, dan perkiraan kapan akan bertemu lagi."
(Seiichi Makino, A Dictionary of Basic Japanese Grammar, The Japan Times, 1986)
Bahasa Jepang dituturkan oleh sekitar 125 juta orang menurut data Ethnologue 2024, dan sistem salam perpisahannya mencerminkan perhatian budaya yang kuat pada hierarki sosial dan kepekaan situasi. Panduan ini membahas 16 ucapan selamat tinggal penting dalam bahasa Jepang, dikelompokkan berdasarkan kategori: kasual sehari-hari, tempat kerja, formal, dan perpisahan jangka panjang. Setiap bagian memuat tulisan Jepang, pelafalan romaji, dan konteks budaya agar kamu memakainya dengan tepat.
Referensi Cepat: Ucapan Selamat Tinggal Bahasa Jepang Sekilas
Ucapan Selamat Tinggal Kasual Sehari-hari
Inilah salam perpisahan yang benar-benar dipakai orang Jepang setiap hari dengan teman, keluarga, dan orang seumuran. Jika kamu ingin terdengar natural, bukan kaku seperti buku pelajaran, ini yang perlu kamu kuasai dulu.
じゃあね (Jaa ne)
/jah neh/
Arti harfiah: Kalau begitu...
“じゃあね!また連絡するね。”
Sampai nanti! Nanti aku chat lagi.
Ucapan pamit kasual andalan di antara teman dan orang seumuran. Singkat, hangat, dan natural. Sering disertai lambaian kecil. Anggap ini setara dengan 'sampai nanti' dalam bahasa Indonesia.
Jaa ne bisa dibilang salam perpisahan yang paling sering dipakai dalam bahasa Jepang informal. Ini adalah bentuk singkat dari jaa (kalau begitu) dan partikel akhir kalimat ne (kan? / ya?). Kamu akan sering mendengarnya saat teman berpisah setelah sekolah, makan siang, atau hangout malam. Variasinya termasuk jaa saja (lebih singkat) dan jaa mata (kalau begitu, sampai ketemu lagi) yang menyiratkan akan bertemu lagi dalam waktu dekat.
またね (Mata ne)
/mah-tah neh/
Arti harfiah: Lagi, ya?
“楽しかった!またね!”
Seru! Sampai ketemu!
Sedikit lebih hangat daripada Jaa ne karena secara jelas menyebut 'lagi,' artinya kamu berharap segera bertemu. Umum di antara teman dan teman sekelas.
Mata berarti "lagi", jadi mata ne secara harfiah mengatakan "lagi, ya?", sebuah janji kasual bahwa kalian akan bertemu lagi segera. Nadanya sedikit lebih hangat daripada jaa ne karena menatap pertemuan berikutnya secara jelas. Kamu bisa menggabungkannya, jaa mata ne terdengar sangat natural dan umum.
また明日 (Mata ashita)
/mah-tah ah-shee-tah/
Arti harfiah: Besok lagi
“また明日!テスト勉強忘れないでね。”
Sampai besok! Jangan lupa belajar buat tes, ya.
Dipakai saat kamu tahu akan bertemu besok: teman sekelas, rekan kerja, kenalan yang sering bertemu. Sederhana, langsung, dan sering terdengar di sekolah dan kantor.
Saat kamu tahu akan bertemu besok, mata ashita adalah salam perpisahan yang paling natural. Ungkapan ini langsung dan memberi ekspektasi yang jelas. Murid pulang sekolah, rekan kerja pulang, dan teman mengakhiri malam sering memakai frasa ini. Kamu bisa mengganti ashita (besok) dengan kata waktu lain, mata raishuu (sampai minggu depan), mata kondo (sampai lain kali).
バイバイ (Baibai)
/bah-ee bah-ee/
Arti harfiah: Dadah (kata serapan dari bahasa Inggris)
“バイバイ!気をつけてね!”
Dadah! Hati-hati, ya!
Diserap dari bahasa Inggris dan ditulis dengan katakana. Umum di kalangan generasi muda, anak-anak, dan konteks santai. Terdengar imut dan playful. Jangan dipakai ke atasan atau dalam situasi formal.
Baibai masuk ke bahasa Jepang dari "bye-bye" bahasa Inggris dan ditulis dengan katakana (バイバイ) untuk menandai kata serapan asing. Menurut data survei The Japan Foundation, kata serapan bahasa Inggris dalam percakapan kasual bahasa Jepang meningkat stabil, dan baibai kini terasa sangat wajar di kalangan penutur muda. Nadanya ringan dan ceria, umum di chat, di antara teman, dan terutama di kalangan perempuan muda dan anak-anak.
🌍 Ucapan Pamit di Chat
Dalam pesan teks bahasa Jepang dan LINE (aplikasi chat paling dominan di Jepang), ucapan pamit kasual sering jadi lebih singkat. Kamu bisa melihat じゃ (ja), またー (mataa, dengan vokal dipanjangkan agar terdengar ramah), atau バイバイ dengan emoji lucu. Budaya pamit tertulis dalam chat bahasa Jepang terasa lebih playful dan ekspresif dibanding pamit lisan.
Ucapan Selamat Tinggal di Tempat Kerja
Budaya kerja Jepang punya sistem pamit khusus. Frasa ini bukan pilihan, ini ritual sosial yang diharapkan dilakukan setiap hari. Menurut survei 2023 dari Badan Urusan Kebudayaan, salam dan pamit yang tepat di kantor termasuk kekhawatiran utama karyawan Jepang dalam komunikasi profesional.
お疲れ様でした (Otsukaresama deshita)
/oh-tsoo-kah-reh-sah-mah desh-tah/
Arti harfiah: Anda sudah lelah dengan terhormat
“お疲れ様でした!今日もお世話になりました。”
Kerja bagus hari ini! Terima kasih untuk semuanya hari ini.
Ucapan pamit paling penting di tempat kerja Jepang. Diucapkan kepada rekan yang pulang, atau saat kamu sendiri pulang. Ini mengakui usaha bersama dan wajib di kantor Jepang. Jika kamu melewatkannya, orang akan menganggapmu tidak sopan.
Jika kamu hanya belajar satu ucapan pamit kantor, pilih yang ini. Otsukaresama deshita adalah respons universal saat seseorang meninggalkan kantor. Secara harfiah artinya "Anda sudah lelah dengan terhormat", yang mengakui usaha orang tersebut. Versi present, otsukaresama desu, dipakai sebagai salam saat jam kerja, sedangkan bentuk lampau deshita menandakan pekerjaan selesai dan orang itu pulang.
Frasa ini tidak hanya untuk kantor. Orang memakainya setelah aktivitas bersama apa pun, selesai rapat, menuntaskan proyek kelompok, selesai latihan olahraga, atau menutup acara relawan. Ini cara Jepang mengatakan, "kita sudah kerja keras bersama dan aku menghargainya."
お先に失礼します (Osaki ni shitsurei shimasu)
/oh-sah-kee nee shee-tsoo-reh shee-mahs/
Arti harfiah: Saya tidak sopan karena pulang lebih dulu
“お先に失礼します。明日もよろしくお願いします。”
Permisi, saya pulang duluan. Mohon kerja samanya besok.
Diucapkan khusus saat kamu pulang sementara yang lain masih bekerja. Ini menunjukkan rendah hati dan sedikit minta maaf karena pergi duluan. Rekan yang tinggal menjawab dengan 'Otsukaresama deshita.' Pertukaran ini adalah ritual kantor yang sangat mengakar.
Ucapan ini mencerminkan nilai budaya Jepang yang khas, yaitu sadar bahwa pulang lebih dulu bisa merepotkan rekan kerja. Osaki ni berarti "lebih dulu dari kamu" dan shitsurei shimasu berarti "saya akan tidak sopan", jadi kamu benar-benar minta maaf karena pergi duluan. Orang yang masih di meja kerja menjawab dengan otsukaresama deshita, lalu ritualnya lengkap.
⚠️ Jangan Pernah Lewatkan Frasa Ini
Di tempat kerja Jepang, pulang tanpa mengatakan Osaki ni shitsurei shimasu adalah pelanggaran etiket yang serius. Walau kamu sedang buru-buru, luangkan dua detik untuk mengatakannya. Rekan kerja akan menyadarinya, dan ini bisa memengaruhi reputasi profesionalmu.
失礼します (Shitsurei shimasu)
/shee-tsoo-reh shee-mahs/
Arti harfiah: Saya akan tidak sopan / Permisi
“それでは、失礼します。本日はありがとうございました。”
Kalau begitu, permisi. Terima kasih banyak untuk hari ini.
Ucapan pamit formal yang serbaguna saat meninggalkan ruangan, mengakhiri rapat, atau pergi dari situasi formal. Juga dipakai saat masuk ke kantor seseorang. Bentuk lampau 'Shitsurei shimashita' dipakai saat tindakan 'tidak sopan' (masuk/keluar) sudah selesai.
Shitsurei shimasu berfungsi sebagai pamit formal dan juga "permisi" saat masuk atau keluar ruangan. Saat meninggalkan rapat bisnis, mengakhiri telepon dengan klien, atau pergi dari acara formal, ini penutup standar. Ungkapan ini terasa lebih halus dan sopan daripada mengucapkan selamat tinggal secara langsung.
Perpisahan Formal dan Jangka Panjang
Ucapan pamit ini dipakai untuk perpisahan yang lebih besar, saat seseorang pindah, saat kamu mungkin tidak bertemu berbulan-bulan, atau saat ada beban emosi yang nyata.
さようなら (Sayounara)
/sah-yoh-nah-rah/
Arti harfiah: Kalau memang harus begitu / Karena memang begitu
“さようなら、みなさん。お世話になりました。”
Selamat tinggal, semuanya. Terima kasih untuk semuanya.
Walau ini ucapan selamat tinggal Jepang yang paling terkenal di dunia, orang jarang memakainya dalam keseharian. Ini menyiratkan perpisahan lama atau permanen. Kamu bisa mendengarnya saat bubar sekolah, dalam pidato perpisahan, atau momen dramatis. Memakainya secara kasual terdengar terlalu dramatis atau dingin.
Inilah kata yang semua orang asing tahu, dan yang jarang dipakai orang Jepang dalam percakapan sehari-hari. Sayounara berasal dari sayou naraba (kalau memang harus begitu), sebuah frasa yang berakar pada penerimaan Buddhis terhadap ketidakkekalan. Etimologinya memberi nuansa pasrah dan final, sehingga terasa berat untuk pemakaian kasual.
Kapan kamu AKAN mendengarnya: murid SD mengucapkannya kepada guru di akhir hari (pamit kelompok yang ritual), pidato perpisahan, dan momen dramatis di film serta sastra. Kapan kamu TIDAK akan mendengarnya: teman berpisah setelah makan malam, rekan kerja pulang kantor, atau anggota keluarga keluar rumah. Untuk situasi itu, ucapan kasual dan kantor di atas adalah yang terdengar seperti bahasa Jepang asli. Lihat juga panduan film terbaik untuk belajar bahasa Jepang dan perhatikan kapan karakter memakai sayounara dibanding jaa ne. Perbedaan emosinya langsung terasa.
お元気で (Ogenki de)
/oh-gehn-kee deh/
Arti harfiah: Semoga baik-baik saja / Semoga sehat selalu
“お元気で。またいつか会えるといいですね。”
Jaga diri. Semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi.
Dipakai saat berpisah untuk waktu lama: seseorang pindah kota, teman pulang ke negara asalnya, atau pamit setelah kunjungan yang bermakna. Lebih hangat dan penuh perhatian daripada Sayounara.
Ogenki de adalah pamit yang membawa kehangatan emosi yang tulus. Jika sayounara menerima perpisahan dengan formal dan tegar, ogenki de secara aktif mendoakan yang terbaik untuk lawan bicara. Awalan o- menambah rasa hormat, genki berarti kesehatan atau vitalitas, dan de menyiratkan "tolong tetap", jadi kamu mengatakan "tolong tetap sehat dan baik-baik saja."
Inilah frasa yang kamu pakai saat siswa pertukaran pulang, saat rekan kerja pindah cabang, atau saat kamu pamit setelah kunjungan yang bermakna. Ini menunjukkan kamu peduli pada kondisi mereka setelah momen ini.
気をつけて (Ki wo tsukete)
/kee oh tsoo-keh-teh/
Arti harfiah: Pasang semangatmu / Perhatikan
“もう遅いから、気をつけてね。”
Sudah malam, jadi hati-hati, ya?
Dipakai untuk menyuruh seseorang berhati-hati saat pulang atau bepergian. Umum saat berpisah malam hari, cuaca buruk, atau saat seseorang akan menempuh perjalanan jauh. Ini mengekspresikan perhatian pada keselamatan orang lain.
Ki wo tsukete secara harfiah berarti "pasang semangatmu" atau "tetap waspada", cara mengatakan "hati-hati" atau "jaga diri." Orang sering memakainya saat seseorang pulang malam, bepergian jauh, atau menghadapi situasi yang membuat kamu khawatir soal keselamatannya. Orang tua mengatakannya pada anak yang berangkat sekolah, teman mengatakannya setelah pulang larut, dan tuan rumah mengatakannya pada tamu yang pamit.
それでは (Sore dewa)
/soh-reh deh-wah/
Arti harfiah: Kalau begitu / Dalam hal itu
“それでは、また来週お会いしましょう。”
Kalau begitu, mari bertemu lagi minggu depan.
Frasa transisi sopan yang menandakan kamu akan pergi. Sering diikuti ucapan pamit lain. Ini setara dengan 'kalau begitu' dalam bahasa Indonesia, cara yang halus untuk mulai pamit tanpa terasa mendadak.
Sore dewa bukan ucapan selamat tinggal yang berdiri sendiri, melainkan frasa transisi yang menandakan kamu akan pergi. Ini membuat perpindahan dari percakapan ke perpisahan terasa mulus. Dalam konteks formal, frasa ini sering diikuti shitsurei shimasu. Dalam percakapan kasual, ini sering dipendekkan menjadi sore ja atau hanya ja, yang menjadi akar dari jaa ne.
また会いましょう (Mata aimashou)
/mah-tah ah-ee-mah-shoh/
Arti harfiah: Mari bertemu lagi
“楽しかったです。また会いましょう!”
Seru. Mari bertemu lagi!
Ucapan pamit hangat yang menatap ke depan dan secara aktif mengajak bertemu lagi. Lebih sopan daripada Mata ne dan cocok untuk situasi sosial maupun bisnis ringan.
Jika mata ne adalah "sampai ketemu" yang kasual, mata aimashou adalah versi sopannya. Kata kerja aimasu (bertemu) dalam bentuk ajakan aimashou (mari bertemu) membuatnya jadi usulan aktif, bukan sekadar harapan pasif. Ini cocok untuk kenalan, kontak profesional yang memang ingin kamu temui lagi, dan situasi sosial saat kamu ingin hangat tanpa terlalu santai.
Ucapan Pamit Saat Keluar Rumah
Seperti bahasa Jepang punya pasangan tadaima/okaeri untuk pulang ke rumah, ada pasangan pelengkap untuk keluar rumah. Ini ritual harian yang dilakukan hampir setiap rumah tangga Jepang.
行ってきます (Ittekimasu)
/ee-teh-kee-mahs/
Arti harfiah: Saya pergi lalu kembali
“行ってきます!今日は遅くなるかも。”
Aku berangkat! Hari ini mungkin pulang telat.
Diucapkan saat keluar rumah untuk menjalani hari. Bagian 'kimasu' (kembali) itu kunci, ini menjanjikan akan pulang, jadi berbeda dari selamat tinggal biasa. Ini memicu respons otomatis 'Itterasshai' dari anggota rumah.
Ittekimasu menggabungkan itte (pergi) dengan kimasu (akan kembali), menjadi satu frasa yang berarti "aku pergi dan aku akan kembali." Orang mengucapkannya setiap pagi, murid berangkat sekolah, orang tua berangkat kerja, dan siapa pun yang keluar rumah. Janji untuk kembali membuatnya terasa menenangkan.
行ってらっしゃい (Itterasshai)
/ee-teh-rahs-shah-ee/
Arti harfiah: Silakan pergi dan kembali
“行ってらっしゃい!傘持った?”
Hati-hati! Bawa payung?
Respons untuk 'Ittekimasu.' Ini memakai bentuk hormat dari 'pergi' (irassharu) untuk mendoakan perjalanan yang aman. Seperti pasangan Tadaima/Okaeri, pertukaran Ittekimasu/Itterasshai adalah ritual harian yang sangat mengakar di rumah-rumah Jepang.
Itterasshai adalah respons keluarga untuk ittekimasu, yang melengkapi ritual berangkat. Ini memakai kata kerja hormat irassharu (pergi/datang/ada) dan pada dasarnya berarti "silakan pergi dan silakan kembali dengan selamat." Bersama ittekimasu, ini menjadi salah satu pertukaran harian paling ikonik dalam budaya Jepang. Kamu akan mendengarnya di hampir setiap anime, drama, dan film yang menggambarkan pagi di Jepang. Untuk mendengar ini dalam konteks, jelajahi konten bahasa Jepang autentik lewat Wordy.
🌍 Ittekimasu di Luar Rumah
Walau ittekimasu terutama dipakai saat keluar rumah, frasa ini juga dipakai di beberapa tempat kerja saat keluar sebentar (rapat klien, beli makan siang, atau urusan singkat). Ini menandakan, "aku keluar, tapi akan kembali," dan membedakan pergi sementara dari pulang untuk hari itu.
Ucapan Pamit di Malam Hari
おやすみなさい (Oyasuminasai)
/oh-yah-soo-mee-nah-sah-ee/
Arti harfiah: Silakan beristirahat
“おやすみなさい。明日は早いから、ゆっくり休んでね。”
Selamat malam. Besok harus pagi, jadi istirahat yang cukup, ya.
Ucapan 'selamat malam' yang sopan saat berpisah di malam hari atau saat mau tidur. Cocok untuk keluarga, teman, rekan kerja, dan orang asing. Versi kasual 'Oyasumi' menghilangkan akhiran sopan.
Oyasuminasai berasal dari yasumu (beristirahat) dengan bentuk perintah sopan nasai (silakan lakukan). Ini berfungsi ganda, sebagai pamit saat berpisah larut malam dan sebagai "selamat malam" saat mau tidur. Di antara teman dan keluarga, bentuk pendek oyasumi lebih umum. Materi bahasa NHK World-Japan mencatat bahwa oyasuminasai termasuk frasa pertama yang diajarkan di kelas bahasa Jepang di seluruh dunia karena sangat berguna sehari-hari.
Cara Menanggapi Ucapan Selamat Tinggal Bahasa Jepang
Ucapan pamit bahasa Jepang mengikuti pola panggil dan jawab yang jelas. Mengetahui respons yang tepat sama pentingnya dengan memulai pamit.
Respons Pamit Kasual
| Mereka Bilang | Kamu Bilang | Catatan |
|---|---|---|
| じゃあね (Jaa ne) | じゃあね (Jaa ne) / またね (Mata ne) | Ulangi atau balas dengan pamit kasual yang mirip |
| またね (Mata ne) | うん、またね (Un, mata ne) | "Iya, sampai ketemu" |
| また明日 (Mata ashita) | また明日 (Mata ashita) | Ulangi kembali |
| バイバイ (Baibai) | バイバイ (Baibai) | Ulangi sambil melambaikan tangan |
Respons Pamit di Tempat Kerja
| Mereka Bilang | Kamu Bilang | Catatan |
|---|---|---|
| お先に失礼します (Osaki ni shitsurei shimasu) | お疲れ様でした (Otsukaresama deshita) | Satu-satunya respons yang benar, selalu |
| お疲れ様でした (Otsukaresama deshita) | お疲れ様でした (Otsukaresama deshita) | Ulangi kembali |
| 失礼します (Shitsurei shimasu) | 失礼します (Shitsurei shimasu) / お疲れ様でした | Ulangi atau akui mereka pamit |
Respons Saat Keluar Rumah
| Mereka Bilang | Kamu Bilang | Catatan |
|---|---|---|
| 行ってきます (Ittekimasu) | 行ってらっしゃい (Itterasshai) | Selalu, ini pasangan tetap |
| おやすみなさい (Oyasuminasai) | おやすみなさい (Oyasuminasai) | Ulangi kembali |
💡 Kalau Ragu, Ulangi Saja
Seperti salam bahasa Jepang, ucapan pamit sangat mengandalkan echo, yaitu mengulang frasa yang sama. Jika seseorang mengucapkan pamit yang kamu belum paham sepenuhnya, mengulangnya hampir selalu bisa diterima secara sosial. Satu pengecualian adalah pasangan di kantor, jika seseorang mengatakan Osaki ni shitsurei shimasu, respons yang benar selalu Otsukaresama deshita, bukan mengulang.
Latihan dengan Konten Bahasa Jepang Asli
Membaca tentang ucapan pamit memberi kamu pengetahuan, tetapi mendengarnya dalam percakapan natural dengan intonasi yang tepat membuatnya melekat. Film dan drama Jepang penuh adegan perpisahan, dan karena budaya Jepang sangat peka konteks, kamu akan mendengar karakter berganti secara natural antara jaa ne, otsukaresama deshita, dan shitsurei shimasu tergantung lawan bicaranya.
Wordy memungkinkan kamu menonton film dan acara Jepang dengan subtitle interaktif. Ketuk ucapan pamit apa pun untuk melihat pelafalan romaji, tingkat formalitas, dan konteks budaya secara real time. Kamu akan menyerap perbedaan pamit kasual dan formal dari percakapan nyata, bukan sekadar menghafal daftar.
Untuk sumber belajar bahasa Jepang lainnya, jelajahi blog kami untuk panduan seperti film terbaik untuk belajar bahasa Jepang. Mulai latihan dengan konten autentik di halaman belajar bahasa Jepang hari ini.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kenapa orang Jepang tidak bilang "Sayounara" untuk pamit sehari-hari?
Apa cara paling umum untuk bilang selamat tinggal dalam bahasa Jepang?
Apa arti "Otsukaresama deshita" dan kapan dipakai?
Apa bedanya "Osaki ni shitsurei shimasu" dan "Otsukaresama deshita"?
Apakah "Baibai" dipakai dalam bahasa Jepang?
Bagaimana cara pamit kepada seseorang yang mungkin tidak akan ditemui lagi?
Sumber & Referensi
- Makino, S. & Tsutsui, M. (1986). "A Dictionary of Basic Japanese Grammar." The Japan Times.
- NHK World-Japan, Pelajaran Bahasa Jepang: Salam dan Ungkapan Sehari-hari
- Agency for Cultural Affairs, Japan, Survei Bahasa Nasional (2023)
- The Japan Foundation, Laporan Survei Pendidikan Bahasa Jepang di Luar Negeri (2021)
- Ethnologue: Languages of the World, entri bahasa Jepang (2024)
Mulai belajar dengan Wordy
Tonton klip film asli dan tambah kosakata sambil jalan. Gratis untuk diunduh.

